Melihat dan Bercermin dari Sistem Pendidikan Negeri Ginseng

Catatan Devi Nurhaliza Atjo, Ketua OSIS SMP Al-Azhar Sepekan di Korea Selatan


Pekan yang lalu, Ketua OSIS SMP Al-Azhar Palu, yang baru saja terpilih, Devi Nurhaliza Atjo, bersama rekan-rekannya di SMP Al-Azhar Palu, berkesempatan untuk mengunjungi Negara Korea Selatan. Banyak pengalaman yang dia dapatkan, termasuk pengalaman system pendidikan di Korea Selatan. Pengalaman tersebut, kemudian dia tuangkan dalam tulisan.

 Korea Selatan merupakan salah satu Negara di kawasan Asia yang menduduki peringkat ke-2 dunia dalam dunia Pendidikan setelah Finlandia. Tak hanya itu, Negara yang dikenal dengan makanan khasnya yang bernama kimchi ini, juga unggul dalam perkembangan ekonomi serta ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara pesat. Korea Selatan bahkan sudah mampu bersaing dengan negara-negara maju lainnya yang lebih dulu dikenal dengan kemajuan di bidang teknologinya seperti Amerika dan Jepang.

Pada sisi pengembangan Sumber Daya Manusia khususnya pada pendidikan, pemerintah Korea Selatan, telah memberi perhatian yang sangat baik dan khusus terhadap kualitas pendidikannya, baik pendidikan di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Pemerintah Korea Selatan memandang bahwa pendidikanlah yang merupakan unsur  utama dalam  memicu peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia.

“Level up! Our Future Will Change!” itulah motto dari salah satu sekolah milik Pemerintah di Korea Selatan yang dimana motto tersebut memiliki makna dan artian, apabila tingkat kualitas pendidikkan meningkat, maka masa depan kita akan berubah menjadi lebih baik. Perhatian itu mulai dari sistematika kurikulum hingga pembangunan sarana dan prasarana sekolah yang hampir sebagian besar didanai oleh Pemerintah. 

Tersedianya fasilitas tersebut menjadi motivasi dan dorongan yang kuat bagi kalangan siswa untuk belajar lebih bersungguh-sungguh menimba ilmu pengetahuan. Seperti halnya, Pemerintah Korea Selatan telah menyediakan akses internet berkecepatan tinggi di setiap sekolah demi kelancaran siswanya dalam melaksanakan proses belajar mengajar. Oleh karena itu kita tidak heran lagi kalau Korea Selatan maju begitu pesat termasuk dalam dunia pendidikan.

Pembagian zonasi menjadi beberapa bagian di lingkungan sekolah, juga menjadi salah satu upaya lain dari pihak sekolah untuk meningkatkan kemampuan siswa di berbagai bidang. Seperti adanya area “English zone” yang menetapkan titik tertentu pada daerah sekolah yang dikhususkan sebagai daerah wajib menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi pada saat kita berada di area tersebut,  yang tentunya betujuan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam ber-bahasa Inggris.

Dan juga ada “science zone”, dimana area tersebut terdiri dari ruangan-ruangan, laboratorium science dan segala hal yang berkaitan dengan science yang juga digunakan siswa untuk melangsungkan proses belajar. Fasilitas pelengkap juga disediakan oleh sekolah untuk membantu pengerjaan tugas praktek yang diberi kepada siswa.

Dalam pengasahan kemampuan siswa dalam bidang akademik, Pemerintah Korea Selatan memprioritaskan Matematika dan Sains sebagai subjek utama yang wajib ditekuni oleh siswa, serta memperbanyak kegiatan aktif dalam membaca untuk memperluas wawasan siswa. Sebagaimana ketentuan tersebut, adalah ketentuan yang dinilai oleh PISA (Program for Internasional Student Assesment) atau Program Penilaian Siswa Internasional dalam menentukan perkembangan pendidikan dunia.

Selain itu belajar praktik lebih mendominasi dalam proses belajar siswa. Melalui praktik, siswa dapat lebih mengembangkan kreativitas mereka serta dapat bermain sambil belajar. Tetapi, Kurikulum di Korea Selatan pun tidak sepenuhnya mengacu dan terfokus kepada bidang akademik saja. Namun juga mengacuh kepada bidang non akademik. Pihak sekolah juga memberi kesempatan maupun dukungan kepada siswa yang berminat, dan intinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat membantu mengembangkan bakat–bakat siswa.

Selain meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan, salah satu upaya Pemerintah Korea Selatan dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia adalah dengan memperhatikan nilai gizi masyarakatnya dengan meningkatkan nilai konsumsi ikan per tahun-nya

Selain itu, kami juga mengamati, bahwa tingkat kedisiplinan dan kemandirian di negeri ginseng ini patut untuk dicontoh masyarakat umum khususnya bagi pelajar. Mereka ibarat disiplin dari “meja makan hingga ke meja belajar” yang dimana hal ini memiliki artian bahwa kedisiplinan mereka sudah dimulai sejak dini. Dari lingkungan rumah dan keluarga ke lingkungan sekolah bahkan umum, dimulai dari hal yang terkecil hingga ke tingkat lebih tinggi. Hal ini diamati langsung oleh peserta student tour SMP Al-Azhar Palu pada saat berkunjung ke Incheon Choeun Middle School.

Pada saat jadwal makan siang, seluruh siswa menuju ke kantin sekolah dan langsung antre untuk mengambil makanan. Budaya antre bukan lagi hal yang asing bagi mereka, budaya antre telah menjadi kebiasaan yang membudaya dalam kehidupan mereka sehari-hari yang tujuannya menjaga suasana tempat agar selalu tertib dan rapi. Selain itu, kemandirian dan kepedulian terhadap kebersihan juga tercermin pada diri para pelajar, setelah selesai makan, para siswa selalu membersihkan sendiri tempat makanan mereka.

Di sisi lain tak sedikit pula siswa yang mengendarai sepeda ke sekolah sebagai aksi peduli lingkungan.  Tak hanya itu, masyarakat Korea Selatan juga sangat disiplin terhadap waktu. Contoh kecilnya, setiap restoran akan tutup pada pukul 20.00 malam yang mengartikan bahwa masyarakat Korea Selatan memiliki jadwal makan malam paling lambat pukul 20.00 malam. Sama halnya dengan “breakfast time”, jadwal sarapan pagi pun diberi batasan paling lambat pukul 8.30 pagi. Hal ini secara tidak langsung juga menggambarkan pola hidup masyarakat Korea Selatan yang begitu teratur.  

Dalam bidang IPTEK nya Korea Selatan juga sudah mampu bersaing dengan negara-negara maju lainnya. taman robotik telah dibangun di Korea Selatan sebagai media wawasan bagi masyarakat umum yang menyangkut keunggulan Korea Selatan dalam bidang Teknologinya. Salah satu taman robotik yang dikunjungi oleh peserta student tour SMP Al-Azhar Palu, adalah Digital Pavilion yang berlokasi di kota Incheon, Korsel. Disana, siswa SMP Al-Azhar Palu dikenalkan perkembangan teknologi dunia terbaru. Baik yang telah trend di kalangan masyarakat umum  hingga teknologi yang akan diterapkan kedalam kehidupan sehari-hari manusia di masa depan mendatang.

Salah satu teknologi yang akan dikembangkan nantinya adalah ‘private doctor’, yang dimana teknologi ini dapat membantu para pasien agar tidak perlu pergi ke rumah sakit ataupun klinik untuk mengecek kondisi kesehatan mereka.

Dari uraian diatas kita dapat menarik manfaat bagaimana pemerintah Korea Selatan mengembangkan pendidikan dasar menengah yang dapat menjadi acuan untuk menyusun kurikulum Indonesia khususnya Sulawesi Tengah. Sebagai tahap awal pengembangan ini dapat dimulai di SMP Al-Azhar Kota Palu, Sulawesi Tengah

Catatan tambahan, bahwa selama di Korea Selatan, kami juga berkesempatan untuk mengunjungi Grand Mosque Seoul dan Prince Sultan Islamic School yang berlokasi di Itaewon, Korsel. Serta, kami juga menyempatkan diri untuk mengikuti salat Jumat di Seoul Grand Mosque. Untuk refrehsingnya, kami bermain ski, karena kebetulan, saat ini di Korea Selatan, sedang musim salju. Iklim di Korea Selatan, saat kami berkunjung pekan lalu, temperaturnya hingga mencapai minus 7 derajat celcius