MALEO, BURUNG ENDEMIK SULAWESI TENGAH SEBAGAI ASET DUNIA

MALEO, BURUNG ENDEMIK SULAWESI TENGAH SEBAGAI ASET DUNIA

        Macrocephalon maleo  atau maleo merupakan burung endemik Sulawesi Tengah yang sudah tidak asing lagi bagi masyarakat daerah ini.  Hewan yang terkenal dengan beragam keunikannya ini, kini statusnya  telah menjadi  hewan yang langka atau endemik akibat penurunan populasinya sekitar 90%, sejak tahun 1950-an. Oleh karena itu, pemerintah hingga lembaga swadaya masyarakat menaruh perhatian penuh terhadap perlindungan satwa langka ini yang kini telah tercatat sebagai salah satu warisan dunia dalam kategori langka oleh IUCN (International Union for the Conservation of Nature).

Terkait dengan hal di atas,  tanggal 13 April 2014 lalu bertepatan dengan perayaan tahun emas  Sulawesi Tengah 50 tahun sejumlah siswa  SMP Al-Azhar Palu di bimbing oleh para guru pembimbing mengunjungi kawasan konservasi  maleo  yang juga merupakan bagian dari kawasan konservasi nasional Lore Lindu yang  terletak di desa Saluki, Kecamatan Kulawi, Kabupaten Sigi yang berjarak kurang  lebih 70 km dari kota Palu.  Kunjungan ini bertujuan untuk membentuk kecintaan siswa terhadap alam melalui agenda perjalanan yang cukup menantang bagi siswa namun sangat mengasyikkan dan edukatif, khususnya bertujuan untuk mengetahui lebih rinci tentang kehidupan hewan yang menjadi  kebanggan Sul-Teng ini.    

Taman Nasional Lore-Lindu seluas 227.091,18 hektar ini, berdasarkan penelitian memiliki 275 jenis burung endemik yang mewakili jenis burung Indonesia sebanyak 65 % (Penjelasan Herman, 2014 Polsus Kehutanan) , satu diantaranya adalah burung Maleo.  Populasi hewan ini,  kini kian menurun dan kehidupan nya di alam bebas pun sangat terancam. Hal ini utamanya, disebabkan karena proses pengembangan-biakan burung Maleo sangat lamban. Diantaranya membutuhkan waktu 15 hari dalam 1 kali bertelur, dan ditambah lagi dengan masa inkubasi sampai menetas diperlukan waktu selama 65-90 hari tergantung kestabilan suhu, atau dengan kata lain burung Maleo tidak mengerami telurnya secara alami, melainkan menguburnya di dalam lubang tanah sedalam 20-60 cm dengan suhu optimum 32-34̊ celcius. Telur burung Maleo bahkan burung Maleo juga banyak diburu oleh predator utamanya manusia yang tidak bertanggung jawab karena melakukan perburuan secara tidak terkendali.  Selain itu faktor yang sangat mempengaruhi ialah faktor alam, misalnya terjadi perubahan suhu di dalam tanah akibat hujan atau banjir ataupun kemarau ekstrim yang menyebabkan suhu tidak sesuai dengan kebutuhan penetasan telur burung Maleo.

Karakter biologis  Maleo juga berpengaruh terhadap dinamika pertambahan populasi burung Maleo. yaitu Maleo sebagai hewan anti poligami (monogami species) yang mengartikan bahwa burung Maleo ini, di kehidupan alam bebas selalu hidup berpasang-pasangan. ia hanya memiliki satu pasangan, dimana hal ini dapat membuat burung Maleo untuk berhenti bereproduksi apabila salah satu pasangannya mati atau hilang.

Selain keunikan pada dirinya yang memiliki daya tarik tersendiri, seperti contohnya adanya tonjolan di kepala burung Maleo yang katanya diduga digunakan untuk mendeteksi daerah yang memiliki sumber panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya. Dan contoh lainnya yang lebih unik lagi ialah konstruksi di dalam tubuh burung Maleo yang berbadan kecil tapi dapat memproduksi telur yang besarnya mencapai  5-6 kali dari telur ayam. Realitas ini membuat sejumlah orang tertarik untuk meneliti fenomena itu.  Anak maleo  yang baru menetas juga memang memiliki kemampuan yang berbeda dari burung lainnya, utamanya kemampuan pada kondisi fisik anak burung Maleo yang dapat langsung terbang setelah menetas. Hal ini dapat terjadi karena asupan gizi tinggi yang terkandung pada telur burung Maleo yang berpengaruh terhadap tumbuh kembang fisiknya. Itulah beberapa daya tarik yang membuat Maleo menjadi sangat unik.

Dari uraian diatas, akan sangat disayangkan apabila populasinya terus menurun dan tidak dilakukan perlindungan khusus. Oleh karena itu, sebagai tindak peduli terhadap pelestarian hewan yang juga menjadi Maskot Sulawesi Tengah ini, dibutuhkan orang-orang yang memang peduli dan memiliki kemauan untuk mengembang biakkan burung Maleo ini. Proses pengembang-biakan Maleo ini pun, perlu diawasi melalui adanya konservasi serta pengawasan yang ketat. Dan yang terpenting adalah bagaimana menegakkan hukum yang tegas bagi perburuan liar Maleo yang tidak bertanggung jawab.

Harapan kita tentunya kunjungan  ini akan menjadi salah satu motivasi khususnya bagi siswa SMP Al-Azhar, pelajar hingga masyarakat umum untuk  mengenal lebih dekat lagi tentang Maleo, hewan endemik kita yang hampir punah. Dan juga menjadi  media edukatif bagi siswa untuk dapay dijadikan materi dalam perlombaan Karya Ilmiah Remaja yang khususnya mengangkat tentang kehidupan Maleo di Sulawesi Tengah.  Harapan selanjutnya adalah  terbentuknya pemahaman dan terbangunnya rasa cinta terhadap hewan endemik ini dimulai dari anak-anak sampai orang dewasa sehingga tujuan melakukan perlindungan atau konservasi terhadap burung kebangaan masyarakat Sulawesi tengah dapat terwujud. (Devi Nurhalizah Atjo)

 

Belum Genap Setahun, Tim Marching Band Al-Azhar Ukir Berbagai Prestasi

Usia boleh muda, tapi sudah sarat dengan berbagai prestasi. Itulah gambaran terhadap Tim Marching Band Al-Azhar Palu. Belum lama ini, tim marching band yang diperkuat siswa SMP Al-Azhar dan SMA Al-Azhar tersebut meraih berbagai prestasi dalam ajang Tadulako Open Drum and Marching Band, iven yang di gelar oleh Universitas Tadulako. “Sebelumnya dalam iven Open Tournament yang diselenggarakan oleh Persatuan Drum dan Marching Band Indonesia SULTENG, kami juga meraih beberapa juara, “kata Pendamping Tim Marching Band Al-Azhar Palu, Arafat Arsyad, ditemui sabtu akhir pekan kemarin di SMP Al-Azhar Palu jalan Tanjung Malakosa.

Tim Marching Band Al-Azhar Palu baru terbentuk pada 8 maret yang lalu. Namun berkat dukungan penuh dari pihak sekolah sehingga seluruh siswa yang tergabung dalam Marching Band, bisa melakukan latihan secara intens dan rutin.

Dalam iven Tadulako Open Drum and Marching Band yang digelar November yang lalu, Tim Marching Band Al-Azhar Palu meraih empat gelar Juara. Masing-masing juara terbaik Color Guard, Juara Umum III, Juara II Display ( Formasi ) dan Juara Parade Street.

“Tadulako Open tournament ini merupakan iven kedua yang kami ikuti. Alhamdulillah, walaupun pada aalnya tidak ada target khusus, Namun kami berhasil meraih beberapa gelar juara. Ini suatu kebanggaan, karena walaupun kami    seperti istilah orang, baru seumur jagung tapi sudah mampu meraih beberapa prestasi,”kata Arafat.

Sebelumnya kata Arafat, dalam iven yang dilaksanakan PODBI yang diikuti tim Marching band Al-Azhar juga meraih beberapa prestasi. Bahkan di iven tersebut, Tim Marching Al-Azhar yang di dominasi siswi SMP, berkompetisi dengan tim maerching  dari SMA dan bahkan ada yang merupakan tim marching perguruan tinggi.

Dalam iven yang digelar rutin oleh PDBI, setiap tahun tersebut,  Tim Marching Al-Azhar Palu meraih juara III, Juara I Mayoret, Juara I Gita Pati, dan Juara I Color Guard. “Insya Allah tahun ini kami lebih baik lagi,”katanya.

Saat di wawancara Arafat didampingi Mayoret yakni Fadradiva Auranti, Nadya Artiana, Ranadiva Aqila Azroo serta pemain color guard Nurshafira.(hnf)

 

 

 

 

 

 

 

 

Peduli Palestina

SMP Al-Azhar Palu Raih 10 Besar Nilai Tertinggi UN dari 34 Provinsi


Raih Nilai Tertinggi UN 2014 di Sulawesi Tengah

Nilai tertinggi hasil UN SMP 2014 telah dirilis Kemendikbud, Jumat (13/6). Masing-masing provinsi telah dikeluarkan hasilnya untuk urutan nilai tertinggi. Penilaian nilai tertinggi UN SMP 2014 sengaja dilakukan berdasarkan Provinsi bukan secara nasional.

Nilai tertinggi hasil UN SMP 2014 di setiap provinsi dari seluruh provinsi yang ada di Indonesia, siswa SMP Al-Azhar Palu raih ranking 10. Siswa SMP Al-Azhar Palu tersebut adalah Kiran Salsabilah, yang juga memperoleh nilai tertinggi se Sulawesi Tengah (Sulteng), dengan total nilai keseluruhan 39,35.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) kota Palu M Sadly Lesnusa SSos MSi mengatakan, dengan perolehan tersebut patut menjadi kebanggaan dari keluarga besar Disdikbud kota Palu. “Pertama-tama yang perlu dilakukan adalah bersyukur kepada Allah SWT, atas perolehan prestasi yang telah diraih. Hal itu tentu sangat membanggakan keluarga besar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kota Palu,” katanya, saat dihubungi via ponselnya, kemarin.

Yang jelas, lanjut Sadly, hal itu tentu menjadi motivasi bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di Kota Palu. “Hal ini juga merupakan cambuk bagi kami, karena untuk mempertahankan hal itu tentu sangatlah tidak mudah, perlu perjuangan dan kerja keras baik itu dari kami dinas pendidikan, maupun kepada seluruh tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di kota Palu,” jelasnya.

Sehingga, ia mengharapkan, adanya peningkatan kualitas bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan yang ada dilingkungan dinas yang dipimpinnya tersebut, agar dapat menjamin kualitas pendidikan yang ada di kota Palu.

“Yang paling penting juga adalah adanya peningkatan kepada tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di sekolah-sekolah, jadi bukan hanya siswanya saja yang harus ditingkatkan prestasinya, tentu guru sebagai tenaga pendidik bisa meningkatkan kualitasnya juga. Sehingga, kami berharap agar hal ini bisa lebih meningkat lagi di tahun yang akan datang,” pungkasnya.

Sekadar diketahui bahwa, yang masuk dalam ranking lima besar tertinggi untuk se sulteng, yakni Kiran Salsabilah dan Fikri Muhammad Nur masing-masing ranking 1 dan 2 dari SMP Al-Azhar Palu. Kadek Grietje Bloemen pada ranking 3 dari SMPN 1 Palu dan untuk ranking 4 dan 5 dari SMPN Madani Palu masing-masing Endah Purwanti S dan Yoga Latief Wibowo